내 아주 - 아주 좋으 당신은 ... 리 분 호

QUOTE...QUOTE

GOD can do anything,, but there's one thing, that god can't do
== HE can't stop to loving us==

==Life is all about making memories,, count your blessings not your worries,,kick a bad habbit for today..and dont forget to remind yourself that it's okay not to be perfect==

Daftar Blog Saya

lorzz creation

song of the day

Jumat, 23 Januari 2009

suka banget sama cerita ini

Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun
menjelang

> pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario
tampak baik
> dan lebih menuruti apa mauku.
>
>

>
> Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam
dan pergi
> kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi,
kemudian
> mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun
sedikit
.
> Aku pikir dia workaholic.
>
>

>
> Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat
dia pulang
> kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia
tidak
pernah
> romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak
memerlukan hal2
> seperti itu sebagai ungkapan sayang.
>
>

>
> Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua,
bahkan
> makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di
meja
makan
> berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan
yang
> terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.
>
>

>
> Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main
dengan
> anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat
pendiam
, aku
> menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.
>
>

>
> Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan
kami.
> Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku
tergolek

> sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di
kantornya,
> dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS,
karena
> sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU,
seorang

> perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama
meisha
,
> temannya Mario saat dulu kuliah.
>
>

>
> Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak
pernah
> melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya
bersinar

> indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara,
seakan2 waktu
> berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang ringan dan
penuh
> pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin
serangga
yang
> lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.
>
>

>
> Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah
dulu,
> Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman
yang

> akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor
mereka
yang
> mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya
bertemu

> dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya
bekerja.
>
>

>
> Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis
pada
> Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan
dalam
sehari
> bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan
mulai

> sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering termenung didepan
> komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia
bilang
,
> ada pekerjaan yang membingungkan.
>
>

>
> Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih
dirawat di
> RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah
kesal
,
> karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan
menyapa

> dengan suara riangnya,
>
>

>
> " Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini ? tidak
mau

> makan juga? uhh… dasar anak nakal, sini piringnya, " lalu dia terus
mengajak
> Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring nasi itu
sudah

> habis ditangannya. Dan….aku tidak pernah melihat tatapan penuh
cinta
yang
> terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur
hidupku
> yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun !
>
>

>
> Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan
tubuhnya
> membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku.
Lebih
> sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan
anaknya.
> Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan
yang
aku
> buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit ketika dia
tidak
pulang
> kerumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari
rasa

> sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku.
>
>

>
> Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu.
Meisha begitu
> manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan donat buat anak2, dan
membawakan
> ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang mengajakku nonton.
kali
> lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu2.
>
>

>
> Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan
berhati
> bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang
bergejolak
> dihatinya.
>
>

>
> Suatu sore, mendung begitu menyelimuti
jakarta , aku tidak pernah
menyangka,
> hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian.
>
>

>
> Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun,
rambutnya
> keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil
membuka

> password email Papa nya, dan memanggilku, " Mama, mau lihat
surat
papa buat
> tante Meisha ?"
>
>

>
> Aku tertegun memandangnya, dan membaca
surat elektronik itu,
>
>

>
> *Dear Meisha,*
>
>

>
> *Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh
relung
> hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan
pada
> Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku
mencintainya
,
> karena dia ibu dari anak2ku.*
>
>

>
> *Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2
> mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku
memandangmu
,
> tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak
> menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika
konflik2

> terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku
tidak
> sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku
cari untuk
> mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku
> menikahinya.*
>
>

>
> *Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya,
seperti
> ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin
yang
> tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti
> pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami,
namun tumbuh
> dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan..*
>
>

>
> *Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi
milik orang
> lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen pernikahan
kami.
> Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa
melihat

> Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia
inginkan

> selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan
tubuhku
, tapi
> tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun
ada

> tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau
mengerti, you
> are the only one in my heart.*
>
>

>
> *yours,*
>
>

>
> *Mario*
>
>

>
> Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun
baru

> berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti
dan
> menyayangiku.
>
>

>
> Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia
bersamaku
. Dia
> mencintai perempuan lain.
>
>

>
> Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis
surat hampir
setiap
hari
> untuk suamiku.
Surat itu aku simpan diamplop, dan aku letakkan di
lemari

> bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.
>
>

>
> Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku
mengumpulkan

> tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan
motor
> untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran, karena
aku
tidak
> pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas dan
baju. Aku
> terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena
aku
malu
> terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua.
Ternyata dia
> memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.
>
>

>
> Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga
seorang

> perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ?
Kenapa dia
> tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak
menginginkan
> aku ? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan
> melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku.
>
>

>
> Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan
setia. Biarlah
> dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya. Dengan pura2
tidak
tahu,
> aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu.
Kebahagiaan
> Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu
mencintainya
.
>
>
>
> **********
>
>

>
> Setahun kemudian…
>
>

>
> Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah
pemakaman

> itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.
>
>

>
> " *Mario, suamiku….*
>
>

>
> *Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali
bekerja
> dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu
terpesona
padamu
> yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku
tidak

> bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin
> memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja,
dan
tidak
> memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya diam
dan

> menuruti keinginanku… Aku pikir, aku si puteri cantik yang
diinginkan
banyak
> pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku
sehingga mau
> melakukan apa saja untukku…..*
>
>

>
> *Ternyata aku keliru…. aku menyadarinya tepat sehari setelah
pernikahan
> kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman
kantor
dulu
> yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario.*
>
>

>
> *Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, " kenapa,
Rima ? Kenapa
> kamu mesti cemburu ? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu
menjadi
> istriku ?"*
>
>

>
> *Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.*
>
>

>
> *Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah
bahagia

> bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku
bukanlah

> wanita yang sempurna yang engkau inginkan.*
>
>

>
> *Istrimu,*
>
>

>
> *Rima"*
>
>

>
> *D*i
surat yang lain,
>
>

>
> *"………Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi
sedingin
> es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah
melihat

> cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang
penuh
> cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha……"*
>
>

>
> Disurat yang kesekian,
>
>

>
> *"…….Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.*
>
>

>
> *Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat
kan, aku tidak lagi marah2
padamu
,
> aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi.
Aku belajar
> masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak
lagi
boros,
> dan selalau menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu.
Aku
> selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku selalu
meneleponmu
,
> untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku
merawatmu
jika
> engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku
> menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, dirumah sakit
saat
> engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu
bermasalah…….*
>
>

>
> *Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan
tetap
> berusaha dan menantinya…….."*
>
>

>
> Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata
indahnya…
> dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya.
>
>

>
> Disurat terakhir, pagi ini…
>
>

>
> *"…………..Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9.
Tahun
> lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu
pulang,
> karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedu nia .
Kemarin
> aku belajar membuatnya dirumah Bude Tati, sampai kehujanan dan
basah kuyup,
> karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya
mengendarai motor.*
>
>

>
> *Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran
> dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya
tidak

> sakit.*
>
>

>
> *Tahukah engkau suamiku,*
>
>

>
> *Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan
hampir 9
> tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran
itu dari
> matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu ?………"*
>
>

>
> Jelita menatap Meisha, dan bercerita,
>
>

>
> " Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat
> keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya
kepadaku. Aku
> tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti
siang itu,
> dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku
selalu

> menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan, Ketika mama
> menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan dengan
kecepatan
> tinggi…… aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante….. aku
melihatnya

> masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak……" Jelita memeluk
Meisha

> dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk
merasakan
sakit
> di hatinya, tapi dia sangat dewasa.
>
>

>
> Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario
> mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima
membacanya.
>
>

>
>
> *Dear Meisha,*
>
>

>
> *Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak
lagi marah2
> dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang
dengan
tubuh
> basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya.
Tiba2 aku
> baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai
bergetar….
> Inikah tanda2 aku mulai mencintainya ?*
>
>

>
> *Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan,
Meisha. Dan
> besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan
mobil
> mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana.
Bukan karena
> dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku….*
>
>

>
> Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih
terduduk
> disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya
telah

> terjadi, Mario.
*Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang,
ketika

> seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.*

>
>

>
>
Jakarta, 7 Januari 2009 (dedicated to my friend....may you rest in
> peace...)
>
>
>
> --
> *
>
>
Yesterday is a history.
> Tomorrow is a mystery.
> Today is a gift.
> That's why it's called "present".*

Tidak ada komentar: